News

Jejak Afriani Sebelum Tabrak Belasan Pejalan Kaki

JAKARTA – Tersangka kasus penggunaan narkoba yang berujung pada tabrakan maut di Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat, Afriani Susanti (29), Deny Mulyana (30), Arisendi (34) dan Adistira Putri Grani (26) kembali menjalani rekonstruksi.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, rekonstruksi atau reka ulang yang berlangsung di Kafe Upstair, Cikini, Jakarta Pusat dimulai sejak pukul 08.00 WIB.
“Kita merekon kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Kafe tersebut,” kata dia di Mapolda Metro Jaya, Rabu (8/2/2012).
Reka ulang di Kafe Upstair melengkapi hasil reka ulang di Diskotik Stadium, Hayam Wuruk, Jakarta Barat, yang sudah dilakukan kemarin siang. Rikwanto mengatakan Afriani Cs tiba di Kafe tersebut sekira pukul 23.15, Sabtu 21 Januari 2012.
“Dia duduk di meja makan kemudian pesan makanan, kemudian Arisendi pesan bir dan bergabung dengan yang lainnya untuk minum minuman keras lainnya,” ujarnya.
Di meja yang tidak bernomor layaknya restoran atau rumah makan lainnya, Afriani Cs urunan uang untuk membeli minuman keras. Puas di Kafe Upstair, Afriani dan ketiga temannya berangkat ke Diskotik Stadium sekira pukul 02.00 WIB hari berikutnya dengan menggunakan kendaraan roda empat Daihatsu Xenia B 2974 XI warna hitam. Afriani bertindak sebagai sopir.
“Sampai di Stadium hampir pukul 03.00 WIB. Mereka masuk lewat pintu depan, kemudian naik ke lantai empat menggunakan lift,” ujarnya.
Di lantai empat, mereka membeli tiket masuk kemudian ditukarkan dengan air mineral dalam kemasan botol. Saat keempatnya berjalan beriringan, seseorang menawarkan ekstasi. Kemudian setelah sepakat dengan harga, Afriani Cs mendapat dua butir ekstasi seharga Rp600 ribu.
“Afri punya uang Rp300 ribu, Arisendi Rp150 ribu dan Deni mengeluarkan uang Rp150 ribu juga jadi terkumpul Rp600 ribu. Putri enggak ikut nyumbang,” tutur Rikwanto.
Pesta narkoba pun dimulai. Mereka membagi dua butir ekstasi menjadi empat. Afriani, perempuan bertubuh gempal dan berkacamata memecah ekstasi dengan cara digigit. Setengahnya diberikan kepada Putri dan sisanya ditelan Afriani sendiri. Sedang Arisendi berbagi ekstasi dengan Denny dengan cara memotek dengan jari.
“Jadi, masing-masing dapat setengah. Setelah itu, Afriani sempat tertidur di atas sofa,” ungkapnya.
Sekira pukul 10.30 WIB, keempatnya pun memutuskan pulang. Afriani yang bertindak sebagai sopir membawa kendaraan melewati Jalan Ridwan Rais. Namun, tiba-tiba Afriani hilang kendali dan menabrak belasan pejalan kaki yang berjalan di atas trotoar. Delapan orang tewas seketika. Satu korban lainnya tewas setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Pusat Agmkatan Darat Gatot Subroto.
Rikwanto juga menjelaskan, sebelum menikmati minuman keras di Kafe Upstair, Afriani Cs juga mengahadiri acara pernikahan rekannya di Hotel Borobudur di Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Di Hotel bintang lima itu, Afriani hanya memperagakan adegan saat mereka berangkat dari hotel itu.
“Di sana tidak ada sesuatu yang perlu diangkat artinya tidak ada yang berkaitan dengan kejadian,” tuturnya.

Ada Korupsi di Proyek Jembatan Kukar

JAKARTA – Mabes Polri menemukan adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam pengerjaan proyek jembatan Tenggarong di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Jembatan sepanjang 710 meter itu ambruk pada 26 November 2011.
“Saya kira unsur korupsi sudah jelas, unsur merugikan negara. Saya kira itu masalah yang terkait dengan policy atau kebijakan, itu adalah ranah politik,” ujar Kabareskrim Polri Komjen (Pol) Sutarman di sela rapat kerja dengan Komisi V DPR, Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Sutarman menjelaskan, Polri saat ini masih mendalami dugaan tindak pidana korupsi dalam pengerjaan proyek jembatan tersebut. “Kita tidak serta merta menuduh itu. Kita lihat kesalahannya ada dimana. Dari kesalahan perencanaan itu, kita lihat kesalahannya seperti apa,” sambungnya.
Dia menambahkan dugaan korupsi terjadi pada pembeliaan bahan proyek. “Ini adalah ranah pemilihan barang. Kalau misalnya dalam kesepakatan disepakati barang A, tapi digunakannya C, itu yang harus kita lakukan penyelidikan,” imbuh dia.
Kendati begitu, Polri lanjut Sutarman masih melakukan pengembangan penyelidikan. Bila ditemukan bukti dugaan pelanggaran, Polri akan menentukan tahapan hukum lanjutan.
“Tergantung perkembangan penyelidikan. Kalau nanti kita akan memperoleh bukti yang cukup, mulai dari aspek perencanaan, pembangunan pada tahun 1995, kemudian aspek perawatannya, aspek pengoperasional dan seluruhnya. Ini bagian informasi yang kita gunakan untuk pintu masuk terhadap penyidikan yang kita lakukan, hingga kita menetapkan 3 orang tersangka tadi,” katanya.
Pada 31 Desember 2011, Polda Kaltim menetapkan tiga tersangka dalam kasus ambruknya jembatan Tenggarong. Ketiga tersangka adalah YS, pejabat Dinas Pekerjaan Umum, ST pejabat pelaksana teknis, dan MSF dari PT Bukaka. Selain menetapkan tiga tersangka, Polda Kaltim juga memeriksa 57 saksi termasuk saksi ahli.

Angie Dipecat Bersamaan dengan Pidato SBY

JAKARTA – Anggota Dewan Kehormatan Partai Demokrat Jero Wacik menyatakan partainya telah memecat Angelina Sondakh sebagai Wakil Sekjen DPP PD pada Minggu, 5 Februari 2012. Semenjak itu, Angelina yang akrab disapa Angie tak lagi menjabat sebagai menjabat sebagai pengurus harian DPP PD.
“Saya sudah teken suratnya sejak dua hari lalu sebelum saya rapat ke Jepara,” ujar Jero Wacik kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (7/2/2011).
Kata Jero Wacik, pemecatan Angie sebagai Wakil Sekjen partai itu merupakan sanksi dari partai karena terlibat kasus korupsi dan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Karena sesuai aturan AD/ART di PD, kalau ada kader PD terlibat urusan korupsi, dan sudah ditetapkan sebagai tersangka maka, dewan kehormatan harus memberhentikan sebagai pengurus partai,” kata dia.
Sementara saat ditanya perihal status Angie sebagai anggota DPR, kata Jero, pemecatannya sebagai pengurus partai tidak secara otomatis juga diberhentikan sebagai anggota parlemen. Menurutnya parlemen memiliki aturan tersendiri yang mengatur anggotanya yang terbukti terlibat kasus korupsi.
“DPR ada aturan sendiri. Tapi kalau enggak salah ya, jangan nanya saya makanya, kalau tidak salah, aturan di DPR kalau sudah mendapat keputusan tetap, sudah vonis dan naik banding sebagainya sudah selesai dan inkracht, itu rasanya diberhentikan dari DPR,” tegasnya.
Sekadar untuk diketahui, pada Minggu 5 Februari lalu, Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan keterangan di hadapan para pewarta terkait isu internal PD. Salah satu tema yang dibahas mengenai sanksi PD terhadap kadernya yang tersangkut kasus korupsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s